
Hosted by Lembaga Pesan Moral

The Philosopher portrays nihilism as a dark abyss that most people fear and avoid by filling their lives with noise, meaning, and distraction. While society treats philosophy as something dangerous or abnormal, the true philosopher is the one who dares to approach, listen to, and ultimately descend into this abyss, abandoning social norms, morality, and identity itself. Along the way, many lose their sanity or retreat, unable to withstand the pull and terror of the void. Refusing comfort or resolution, the philosopher continues forward, not seeking enlightenment or salvation, but confronting emptiness in its purest form—until he finally enters the abyss itself, where all meaning, pride, and distinction dissolve into nihilism.

Hidup adalah sesuatu yang fana dan singkat. Banyak orang mungkin merasa bahwa hidup yang singkat ini harus diisi dengan makna. Pemaknaan itu sendiri berasal dari motivasi, yang seringkali kita temukan dalam sesuatu yang lebih besar atau dalam apa yang kita percayai. Hal ini mungkin tampak sederhana, tetapi ketika kita memasuki ranah filsafat—di mana ada fakta-fakta yang seringkali gelap dan rumit—sederhananya hidup bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat kompleks dan kacau. Bukan sedikit orang yang akhirnya terjerumus ke dalam jurang nihilitas.

Pasti kita sadar kan dengan banyaknya mendengarkan lagu yang relate dengan pengalaman hidup kita sebelumnya, baik tentang asmara seperti mengagumi orang yang telah memiliki kekasih, sulit melupakan seseorang yang dulunya turut mengisi kehidupan kita, ditinggalkan secara sepihak, ingin kembali seperti dulu namun nyatanya enggak bisa, atau sudah kenal lama dan merasa nyaman tapi akhirnya di-ghosting. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa kita tidak selalu menjadi "korban" dalam kisah-kisah tersebut? Kita juga sering kali menjadi "pelaku" dalam kehidupan seseorang.

Kuantifikasi pada pemaknaan kata mahasiswa ironisnya di bunuh dan di rusak oleh mahasiswa itu sendiri. Dan bahkan secara tidak sadar. Dengan hal hal palsu seperti kuantitas untuk memilah mana yang bagus mana yang buruk. Inipun sudah tidak masuk akal lagi ketika perbandingan kualitas, dilakukan kuantifikasi.

Kebahagiaan memang sangat dicari masyarakat khususnya generasi milenial. Romantisme kesenangan duniawi, kekayaan, gengsi, dan kemanjaan milenial, ingin ditarik pada pembatas suci antara jurang kekejaman dunia dan kebahagiaan dunia.

Kita selalu hidup dalam kebahagian, kesenangan, kekayaan dan segala memiliki. Namun terkadang, ketika hal hal tadi hilang, maka kita sedih, depresi, atau bahkan hingga bunuh diri. Mengapa bisa seperti ini?

Dewasa, tentunya kita tidak bisa mengukur kedewasaan seseorang sesuai berdasarkan usianya kan? Kita akan membahas bagaimana bersikap dewasa dalam menjalin hubungan.

Ada yang bilang untuk mengecek kewarasan kita, moralitas kita, kualitas fisik kita, adalah dengan masuk ke alam. Yap ini adalah benar. Alam satu satunya tempat yang tidak akan mengenal mau siapa itu kita, jabatan kita apa, dan se kaya apapun kita. Dan entitas inilah yang memberikan cermin diri kita sendiri.

Sebelumnya kita pernah membicarakan tentang harus bersyukur terhadap apa yang telah kita dapat. Salahsatu cara melatih kita menjadi lebih bersyukur adalah dengan menerapkan untung. Hah? apa itu? Mari kita berkenalan dengan untung.

Kalian pernah nggak sih, merasa ingin menyampaikan sesuatu atau ingin mengungkapkan suatu hal tapi sulit sekali untuk kalian lakukan? Yu kita jelasin kenapa bisa gitu?