
Hosted by Unknown Author · EN

1 Tesalonika 4:13, 18 Karena itu, hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini. (1 Tesalonika 4:18) Sambat merupakan kata dalam bahasa Jawa yang sering muncul di media sosial. Dilihat dari jejak pencarian di Google, kata ini telah dicari sebanyak lebih dari empat juta kali. Maka, dapat disimpulkan bahwa kata sambat ini termasuk kata yang populer di Indonesia. Ia dipakai secara umum oleh berbagai kalangan usia. Merujuk pada buku Kamus Indonesia-Jawa yang ditulis oleh Sutrisno Sastro Utomo, sambat artinya mengeluh. Kata ini biasanya digunakan warganet di media sosial bersamaan dengan ragam curahan hati mengenai masalah yang sedang dihadapi. Kematian sebelum kedatangan Kristus kembali sempat menjadi tema penting dan merupakan perbincangan di kalangan jemaat Tesalonika. Perkara kematian ini menyita perhatian jemaat karena suasana eskatologis yang sangat kental di dalam kehidupan gereja mula-mula. Gereja-gereja perdana di awal kekristenan yang dipimpin oleh para rasul atau murid Yesus, memang secara umum memahami bahwa Tuhan Yesus akan segera datang kembali untuk menghakimi dunia. Suasana itu tentu sangat didukung oleh situasi penderitaan yang dialami oleh hampir semua gereja perdana akibat iman mereka kepada Yesus. Mereka berharap Yesus akan segera datang, menjadi hakim yang adil dan menyelamatkan. Kegelisahan dan kekhawatiran ini perlu diberi ruang. Sambat yang mereka ceritakan perlu didengarkan. Itulah mengapa Paulus menyapa mereka bukan sekadar sebagai pemimpin, melainkan sebagai saudara di dalam iman. Surat Paulus menyapa dengan “aku” dan “kamu” untuk menyebut dirinya dan umat. Nada ini menyiratkan bahwa kegelisahan mereka didengarkan dan bahkan diperhatikan. Sambat mereka tidak diabaikan begitu saja. Teens, seperti Kristus yang setia mendengar sambatmu, biarlah kamu pun dipakai-Nya untuk menjadi sahabat yang mendengarkan keluh sesamamu. Di zaman yang makin bising ini, semakin dibutuhkan telinga dan hati yang terbuka.

1 Korintus 15:20-28 Sebab, sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. (I Korintus 15:22) Hidup Joe tidak akan pernah sama lagi, karena ia telah mengalami kerusakan lever akibat pola makan yang buruk. Dokter mengatakan kesehatannya akan semakin memburuk jika tidak dilakukan transplantasi lever. Hingga mendekati batas waktu yang ditentukan oleh dokter, Joe belum mendapatkan pendonor lever yang cocok. Ia sudah menyerah dan bersiap menyambut kematian. Ternyata, Tuhan masih memberi kesempatan bagi Joe. Donor tersedia di saat-saat terakhir, sehingga Joe bisa menjalani operasi dan berhasil selamat. Hidup Joe berubah, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan hidup yang telah ia dapatkan. Kita juga telah mendapatkan kesempatan hidup kembali dari Kristus. Hidup lama kita yang berdosa sebagai keturunan Adam, telah mati bersama Kristus. Manusia lama yang berdosa itu telah ditebus dalam kematian Kristus dan kembali dihidupkan dalam kebangkitan Kristus. Kematian Kristus terjadi satu kali untuk menghapus dosa manusia selama-lamanya. Jika dalam kemanusiaan lama kita takut terhadap maut, dalam manusia baru kita tidak takut lagi terhadap maut. Mengapa? Sebab kematian tubuh bukanlah kematian kekal, melainkan akan ada kebangkitan yang membawa kita kepada kehidupan kekal bersama dengan Kristus. Menjadi manusia baru adalah anugerah terbaik yang kita terima, sekaligus kesempatan yang berharga bagi kita. Oleh sebab itu, jangan sia-siakan kesempatan hidup kembali dalam Kristus ini. Gunakanlah kesempataniniuntukmenjalanihidupdenganlebihbaik lagi. Maknailah hidup dengan sudut pandang iman bahwa kehidupan ini adalah anugerah yang patut disyukuri demi kemuliaan Tuhan. REFLEKSI: Sudahkah yang terbaik kita berikan bagi Tuhan melalui kehidupan baru ini? 2 Raj. 22:11-20; Mzm. 132:1-12; 1 Kor. 15:20-28

Mazmur 93 Daripada gemuruh air yang besar, daripada pecahan ombak yang hebat, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi. (Mazmur 93:4) Gelombang tsunami menjadi ancaman yang mengerikan bagi manusia. Gelombang ini dapat mencapai ketinggian puluhan meter dan bergerak begitu cepat. Tidak heran jika gelombang ini sangat merusak dan dapat menyapu bersih suatu wilayah dalam sekejap. Manusia dibuat tidak berdaya oleh gelombang tsunami yang begitu dahsyat. Gambaran tentang gelombang air yang besar digunakan oleh pemazmur untuk menggambarkan kuasa Allah sebagai raja. Ia menyatakan bahwa kuasa Allah yang bertakhta di tempat tinggi jauh lebih hebat daripada gemuruh air yang besar dan bahkan pecahan ombak yang hebat. Jika gelombang besar seperti tsunami saja bisa menyapu kehidupan di suatu tempat dalam sekejap, maka bukan hal yang sulit bagi Tuhan untuk menyapu musuh-musuh-Nya dalam sekejap. Gambaran ini sesungguhnya ditulis pemazmur untuk meneguhkan orang-orang Israel dalam menghadapi penderitaan dan penindasan yang sedang mereka alami. Youth, mengakui Tuhan sebagai raja semestinya membuat kita percaya bahwa kuasa-Nya lebih hebat dari segala kuasa yang ada di dunia, baik itu kejahatan, kelaliman, bahkan kuasa iblis sekalipun. Percayalah bahwa Tuhan pasti menang melawan segala kuasa jahat. Namun, apakah kita percaya dan dapat merasakan kedahsyatan kuasa Tuhan? Hanya orang-orang yang hidupnya dikuasai perintah dan kehendak Tuhanlah yang dapat mengalami kedahsyatan kuasa Tuhan yang menyelamatkan dan menghidupkan. Akuilah kebesaran Tuhan dalam hidup dan alamilah kuasa-Nya yang dahsyat! 1. Apa saja gambaran pemazmur tentang Tuhan yang menjadi raja atasnya?2. Hal apa saja yang sering membuat kita ragu pada kuasa Tuhan? Pokok Doa: Percaya pada kuasa Tuhan yang mampu mengalahkan segalanya.

Bacaan: Yehezkiel 28:20-26 …Ya, mereka akan tinggal dengan aman tenteram pada saat Aku menjatuhkan hukuman atas semua tetangganya yang menghina mereka. (Yehezkiel 28:26) Sahabat Senior, kita pasti menyimpan payung di rumah atau kendaraan. Fungsi payung adalah melindungi kita dari panas dan hujan. Saat kita menggunakan payung, hujan tidak serta- merta berhenti, bahkan terkadang semakin deras. Kendati demikian, dengan payung, tubuh kita tidak akan kebasahan. Sahabat Senior, suatu kali Bangsa Israel menghadapi “hujan pergumulan”. Bangsa Sidon menghina mereka. TUHAN kemudian menghukum Bangsa Sidon dengan penyakit sampar, sehingga banyak dari antara mereka yang mati. Melalui peristiwa tersebut, Bangsa Sidon mengakui kemahakuasaan TUHAN. Tuhan ibarat payung. Bersama Tuhan bukan berarti tidak ada “hujan pergumulan”. Bersama Tuhan, kita tetap mengalami “hujan pergumulan”. Namun, bersama dengan Tuhan, kita tidak akan dibiarkan “kebasahan”. Ia melindungi kita dan keluarga kita dengan setia. Sahabat Senior, pergumulan apa yang sedang kita alami saat ini? Tetaplah percaya bahwa Tuhan adalah pelindung kita. Ia punya banyak cara yang unik untuk menolong kita. Ketika pertolongan sudah tiba, ingatlah untuk menyaksikannya kepada sesama. Dengan menyaksikan bahwa Tuhan senantiasa melindungi kita, banyak orang akan mengakui kemahakuasaan Tuhan. DOA: Bapa di surga, kami percaya bahwa Engkaulah pelindung kami. Amin.

Wahyu 3:7-13 “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.” (Wahyu 3:8) “Tino dikeluarkan saja dari kelompok vocal, Om. Lemah dia suaranya,” kata Bandi tertawa-tawa. “Om Niko tidak akan mengeluarkan Tino dan siapa pun yang setia berlatih dalam kelompok vocal ini. Sebab, meskipun lemah, tetapi jika ia setia maka ia akan baik dan harmonis dengan yang lain. Menyanyi bersama itu bukan lomba keras-kerasan, tetapi belajar memadukan suaranya dengan yang lain,” kata Oom Nikolaus membela Tino. Adik-adik, mari kita baca Wahyu 3:7-13! Jemaat di Kota Filadelfia adalah jemaat yang tidak terlalu kuat, tetapi di mata Tuhan, mereka adalah jemaat yang setia menuruti apa yang difirmankan kepada mereka. Mereka juga jemaat yang berani mengakui nama Tuhan di hadapan orang yang tidak mengenal Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan Allah senang dan memuji jemaat Filadelfia. Apakah Adik-adik pernah merasa lemah, tidak bisa berbuat apa-apa? Ingatlah Tuhan tetap sayang kalian. Ia akan menolong kalian untuk bisa menjadi kuat. Doa: Bapa di Surga, terima kasih karena Engkau tetap mengasihiku meski aku lemah. Tolong kuatkan aku. Dalam nama Tuhan Yesus. Aku berdoa. Amin.

Kisah Para Rasul 7:54-8:1a Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kisah Para Rasul 7:59) Dalam Alkitab, Stefanus tercatat sebagai salah satu martir karena mempertahankan imannya kepada Yesus Kristus. Dia adalah salah satu dari tujuh diakon yang dipilih oleh komunitas gereja pertama untuk melayani dan membantu sesama. Namun, pemberitaaan Injil yang dilakukannya dengan penuh kuasa dan kebenaran menimbulkan kemarahan di antara para pemimpin agama Yahudi. Stefanus adalah contoh teladan iman yang kuat dan tabah dalam menghadapi penganiayaan. Saat diadili oleh para pemimpin Yahudi, dia tidak mundur atau meninggalkan imannya. Sebaliknya, dia bersaksi dengan tegas tentang kebenaran Injil dan sejarah keselamatan. Saat ia dihukum mati dengan cara dilempari batu, Stefanus berdoa kepada Allah agar mengampuni para penganiayanya. Ini menunjukkan dalamnya kasih dan pengampunan yang dimiliki Stefanus, bahkan pada saat-saat terakhir hidupnya. Kesaksian dan kematiannya sebagai martir mengilhami banyak orang percaya lainnya untuk tetap teguh dalam iman mereka dan siap menghadapi segala bentuk penganiayaan. Kisah Stefanus mengajarkan kita tentang pentingnya mempertahankan iman bahkan dalam situasi yang sulit dan berbahaya. Dia bahkan mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk tetap bersaksi tentang kasih Kristus yang mengampuni. Keteguhan dan kesetiaan Stefanus telah menjadi keteladanan iman bagi orang-orang percaya dalam menghadapi berbagai pergumulan agar tetap beriman teguh kepada Yesus Kristus. REFLEKSI: Kesempatan baik apa yang dapat kita ambil saat mengalami kesempitan? 2 Raj. 22:1-10; Mzm. 132:1-12; Kis. 7:54-8:1a

1 Tesalonika 4:13-17 …Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama- sama dengan Tuhan. (1 Tesalonika 4:17) Salah satu realitas yang pasti terjadi di dalam perjalanan hidup manusia adalah kematian. Kematian sebagai bagian dari siklus kehidupan kerap dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan karena kedatangannya yang tiba-tiba. Manusia tidak tahu kapan, di mana, dan bagaimana harus mengalaminya. Selain kematian, ketidaktahuan akan apa yang akan terjadi setelah kematian terkadang menjadi sebuah pertanyaan menggelisahkan yang terus mengusik pikiran manusia. Jemaat Tesalonika pun pernah merasakan kekhawatiran saat membicarakan tentang kematian. Ada beberapa hal yang membuat mereka dihinggapi keraguan dan tanya. Bagaimana nasib nenek moyang atau pendahulu mereka yang telah meninggal sebelum Kristus datang ke dunia? Apakah mereka yang telah berpulang ini juga akan menerima anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus? Atau apakah mereka akan selamanya berada di alam maut sebab Yesus belum datang kembali ketika mereka tiada? Paulus menjelaskan bahwa Yesus Kristus yang sudah mati dan bangkit itu akan merengkuh semua orang yang percaya kepada-Nya. Yesus Kristus mengangkat mereka dari gelapnya alam kematian yang telah Ia kalahkan dan memberikan kehidupan abadi bersama Allah yang kekal. Artinya, pada saat kedatangan Kristus kembali, keselamatan dianugerahkan kepada semua orang yang percaya kepada Allah, baik mereka yang masih berada di dunia ini maupun mereka yang telah meninggal di dalam Tuhan. Melalui penjelasan ini, umat diajak hidup dalam pengharapan kepada Kristus. Teens, sebagai pribadi yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Sang Jalan, Keselamatan, dan Hidup, kita tidak perlu khawatir akan realitas kematian. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan di dunia dengan kesadaran mengikut Tuhan dan menghadirkan diri sebagai berkat bagi sesama.

2 Raja-raja 22:1-10 Tetapi, tidak perlu diminta perhitungan kepada mereka mengenai uang yang diberikan ke tangan mereka, sebab mereka bekerja dengan jujur. (2 Raja-raja 22:7) “Before cars, make people.” Itulah prinsip kepemimpinan Eiji Toyoda saat memimpin Toyota di era 1970-an. Toyoda sangat menghargai para pekerjanya. Kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup mereka sangat ia perhatikan. Ia bahkan melibatkan para pekerja dalam pengambilan berbagai keputusan. Gaya kepemimpinan inilah yang mengantarkan Toyota mencapai puncak kejayaannya. Prinsip serupa tampaknya dimiliki oleh Yosia, raja Yehuda yang dikenal karena reformasi keagamaan yang ia lakukan. Upayanya ini dimulai saat Yosia meminta para pekerja memperbaiki kerusakan yang ada di Bait Allah. Permintaannya ini disertai dengan kebijakan tentang pengelolaan persembahan di Bait Allah. Yosia memercayakan pengelolaan ini kepada para pekerja tersebut. Karena kejujuran mereka, Yosia tidak meminta perhitungan mengenai uang yang mereka kelola. Sikap ini menjadi bentuk penghargaan Yosia kepada para pekerja tersebut. Penghargaan dan kepercayaan ini mendorong para pekerja untuk semakin bertanggung jawab terhadap tugas mereka. Bait Allah berhasil diperbaiki dan gulungan-gulungan kitab Taurat yang sudah lama hilang pun ditemukan. Sikap Yosia terhadap para pekerja Bait Allah turut memengaruhi terjadinya reformasi di Yehuda. Youth, sikap menghargai orang lain adalah salah satu kunci untuk meraih kesuksesan. Kita tidak boleh bertindak sewenang-wenang pada orang lain, apalagi pada mereka yang dianggap rendah karena latar belakang, pekerjaan, usia, dan pendidikan. Di hadapan Tuhan kedudukan kita sama sebagai ciptaan-Nya, dan Ia bisa memakai setiap orang untuk menjadi alat-Nya. 1. Bagaimana Yosia memulai reformasi agama di masapemerintahannya?2. Sikap-sikap apa saja yang mencerminkan penghargaan kitapada sesama? Pokok Doa: Menghargai semua orang apa pun statusnya.

Bacaan: Mazmur 132:1-12 Jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku… maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu. (Mazmur 132:12) Sahabat Senior, zaman semakin canggih. Hidup manusia semakin nyaman dan dipermudah. Untuk berbelanja, kita tidak harus repot- repot keluar rumah. Kita dapat memesan barang kebutuhan kita melalui aplikasi yang ada di telepon genggam. Tentu, anak dan cucu kita lebih pandai menggunakan teknologi tersebut. Teknologi canggih memang memudahkan hidup kita. Namun di sisi lain, hidup yang serba mudah dapat mengakibatkan krisis iman, khususnya pada generasi muda. Misalnya, manusia tidak lagi mengandalkan TUHAN, melainkan teknologi. Tentu kita khawatir jika generasi muda secara tidak sadar menggantikan Tuhan dengan teknologi canggih. Sahabat Senior, setiap zaman pasti ada tantangannya. Raja Daud memutuskan untuk setia kepada TUHAN. Namun, praktik penyembahan berhala oleh orang-orang di sekitarnya dapat menggoyahkan iman Daud dan keturunannya. Namun, Daud berjanji untuk setia kepada TUHAN. Ia pun akan mengajarkan kepada keturunannya untuk setia kepada TUHAN. Sahabat Senior, bagaimana dengan kita? Kita memiliki tugas yang sama dengan Raja Daud. Tidak hanya menjaga kesetiaan kita, tetapi juga menjaga kesetiaan anak dan cucu kita kepada Tuhan. Marilah menuntun keturunan kita untuk setia kepada Tuhan. DOA: Ya Bapa di surga, di tengah kecanggihan teknologi, mampukanlah kami dan keturunan kami untuk selalu mengandalkan-Mu. Amin.

WAHYU 3:1-6 “Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tersisa yang sudah hampir mati …..” (Wahyu 3:2) “Tino, kalau menyanyi harus dari hati agar pujian yang kamu nyanyikan itu menjadi hidup,”kata Om Nikolaus, pianis gereja yang mengiringi Tino me- nyanyi. “Iiiiih, mengerikan pujian bisa hidup, nanti suaranya bunyi sendiri di mana-mana,” kata Bandi tertawa-tawa. “Pujian yang hidup itu artinya setiap orang yang men- dengar mengerti dan tersentuh oleh nyanyian itu,” kata Om Nikolaus menjelaskan. Adik-adik, mari kita baca Wahyu 3:1-6! Jemaat di Kota Sardis memang suka menyanyi dan melakukan kegiatan ibadah lain, tetapi Tuhan mengetahui bahwa mereka tidak melakukannya dengan hati yang sungguh. Perbuatan mereka sehari-hari pun tidak menampakkan iman percaya. Oleh karena itu, Tuhan Allah memerintahkan mereka untuk menghidupkan iman mereka. Allah berjanji akan memberikan hidup kekal. Adik-adik, Kak Kiddy percaya bahwa kalau kalian Sekolah Minggu pasti kalian menyanyi, berdoa, dan mendengar firman dengan sungguh- sungguh. Kalian juga melakukan firman Tuhan, ya kan? Doa: Bapa di Surga, tolonglah aku untuk melakukan firman yang kudengar. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.