
Hosted by Alda Miranda · EN

Pikiranku sibuk bertanya, "Bagaimana jika eksistensiku tidak diinginkan oleh dunia?" Aku menghabiskan satu demi satu malam kelam yang panjang. Mengetahui bahwa hari esok akan tetap semu. Aku akan tetap putus asa.

Dia yang tertawa paling keras, mungkin saja yang menyembunyikan tangis paling dalamnya. Ada banyak pertarungan dalam diam yang mungkin sedang kamu coba selesaikan sendiri. Semoga pertarungan itu lekas usai.

Biasanya aku jatuh cinta pada sepi. Tetapi perginya mereka membuat aku sadar bahwa aku benci kesepian. Kehilangan ini membuat aku perlahan berubah untuk bertahan. Aku memilih mencari sebanyak mungkin teman, aku merasa lebih aman berada di tengah keramaian, aku merasa nyaman menjadi pusat perhatian. Ini perjalanan aku dari seorang introvert menjadi extrovert :)

Sepertinya aku jatuh cinta terlalu dalam padamu, sehingga perpisahan rasanya sesakit ini. Aku tidak pernah siap mengakhiri hubungan kita. Jadi dengan sisa harapan yang ada, mencoba memberi segala hal terakhir yang aku miliki. Termasuk jila harus mengubah diriku semaumu.

2 kutub ekstrem yang sering aku tanyakan ketika gagal: sibuk menyalahkan diri atau sibuk denial. padahal memang nggak selamanya hasil berbanding lurus dengan usaha. ada kalanya kita sudah mencoba dan yang kita temui adalah jalan buntu. perihal gagal, kadang hanya soal waktu. tidak selamanya karena salah dirimu sendiri. hanya saja waktunya yang belum tepat.

Sebuah perjalanan menulis aku -- Sudah mencoba yang terbaik, belajar menulis lagi, mengikhlaskan banyak hal, sampai memaafkan semua trauma, tetapi masih belum 100% bisa menulis Hingga suatu malam, sambil menangis karena aku merasa gagal mengenali diri sendiri, aku memanjatkan sebuah doa kecil.

Bahwa satu-satunya hal yang akan menolong kamu, di kala terpuruk, saat semua jawaban rasanya salah, adalah kebaikan. Teruslah menjadi orang baik.

Cerita tentang sosok anak kecil yang pernah kehilangan teman-temannya. Tak ada yang tertarik bermain dengannya, seolah ia adalah mainan yang usang dan membosankan. sosok anak kecil yang bahkan tidak pernah cukup untuk membanggakan ibunya. Satu-satunya kemampuan yang dia bisa ternyata masih tidak cukup di dunia yang terlalu sempurna baginya. Sosok anak kecil yang eksistensinya dipertanyakan semua orang.

Bagiku, sempat, merayakan ketidaksempurnaan adalah menerima diri yang tidak sempurna ini. Tidak sakit hati dengan makian sendiri atau orang lain. Menerima, sambil tetap berjalan dan memperbaiki diri. Sambil sesekali tetap mencela ketika ternyata diri belum sempurna. Tapi ternyata itu bukanlah cara merayakan. Itu memaki diri. Seolah berteriak berkata: kamu jelek, kamu bodoh. Terimalah itu. Perbaiki lagi.

Kita sibuk mencari validasi, mencari pengakuan dari orang-orang di sekitar kita, sampai kita lupa kalau validasi terpenting adalah diri sendiri.